Oct 15, 2010

Euthanasia - Hukum Menurut Islam


Euthanasia
Euthanasia dalam bidang perubatan adalah tindakan mempercepatkan kematian pesakit yang mengalami penderitaan hebat menjelang kematiannya.

Biasanya untuk pesakit yang sudah sangat parah keadaannya, dan mencapai terminal-stage (stage terakhir, prognosis buruk, jangka hidup tipis) yang mana penyakitnya sudah tidak dapat disembuhkan lagi meski dengan kawalan perubatan intensif. Alasan paling umum, tindakan pengubatan yang berterusan akan hanya menambahkan penderitaan pesakit, dan biaya perubatan yang tinggi dengan hasil yang tidak mungkin sembuh hanya akan menambahkan beban yang bertanggungjawab.

Terdapat 2 jenis euthanasia:

1. Aktif
Mempercepatkan kematian pesakit dengan pemberian suntikan yang over-dosage ke dalam tubuh pesakit. Pesakit akan meninggal dalam waktu yang lebih cepat.

2. Pasif
Mempercepatkan kematian pesakit dengan menghentikan pemberian ubat-ubatan kepada pesakit. Pesakit akan meninggal setelah jangka waktu yang lebih lama berbanding euthanasia aktif, namun lebih cepat berbanding jika pesakit memilih untuk terus berubat.

Hukumnya menurut Islam:

[[Dari JAKIM]]
Menurut Panel Kajian Syariah JAKIM Bil.PKS 5/18/PKS/97 bertarikh 10 -11 Jun 1997,

i. Haram membunuh tanpa hak. Berusaha mempercepatkan kematian dengan memberhentikan rawatan atau mengambil ubat-ubatan (racun) adalah umpama membunuh diri. Membunuh diri bermakna melawan kehendak ALLAH dan merampas haknya.


ii. Tugas seorang mukmin (doktor) adalah menolong saudaranya (pesakit) di dalam perkara kebaikan. Membantu mempercepatkan kematian tidak termasuk dalam perkara kebaikan tetapi tergolong dalam perkara yang mendatangkan keburukan dan dosa.

iii. Harus bagi para doktor memberikan ubat penahan sakit kepada pesakit jika tiada pilihan lain sekalipun ia mempunyai kesan sampingan yang boleh mempercepatkan kematian.

Sumber : Soal Jawab Agama JAKIM, http://baheis.islam.gov.my, Nombor Rujukan - PANEL SJAI 011107

[[Dari MUI Propinsi DKI Jakarta]]
Majelis Ulama' Indonesia (MUI) Jakarta memfatwakan hukum euthanasia sebagai berikut:

1. Menurut ajaran Islam, hukum euthanasia adalah haram, karena hak untuk menghidupkan dan mematikan manusia hanya berada di tangan Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali Imran, ayat 156:

َاللّهُ يُحْيِـي وَيُمِيتُ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:
Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (3:156)

2. Euthanasia merupakan suatu tindakan bunuh diri yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa', ayat 29:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

Artinya:
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (4:29)

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-An' am ayat 151:

وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالحَقِّ

Artinya:
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". (6:151)

3. Seseorang yang sengaja melakukan tindakan bunuh diri, meskipun dengan cara melakukan euthanasia maka selamanya akan menjadi penghuni neraka jahannam. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah RA. sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ تَرَدَّى فِيْهِِ خَالِدًا مُخْلَدًا فِيْهَا اَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِيْ يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخْلَدًا فِيْهَا اَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فِيْ يَدِهِ يُجَأُ بِهَا فِيْ بَطْنِهِ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخْلَدًا فِيْهَا اَبَدًا - رواه البخاري

Artinya:
"Barangsiapa sengaja menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri kemudian ia mati, maka kelak ditempatkan di neraka jahannam selama-lamanya dalam keadaaan selalu menjatuhkan diri, barangsiapa sengaja menenggak racun untuk bunuh diri kemudian ia mati, maka kelak ditempatkan di neraka jahannam selama-lamanya dalam keadaaan menenggak racun. Dan barangsiapa sengaja melakukan bunuh diri dengan besi kemudian ia mati, maka kelak ditempatkan di neraka jahannam selama-lamanya dalam keadaaan sakit karena menusukkan besi ke dalam tubuhnya sendiri" (HR Bukhari)

4. Seseorang yang menderita suatu penyakit, betapapun parahnya dan sekalipun tidak ada harapan untuk disembuhkan adalah sedang diuji oleh Allah SWT; apakah dia bersabar dalam menghadapi musibah atau tidak. Demikian juga keluarganya. Oleh karena itu ia tidak boleh meminta kepada dokter atau orang lain agar dipercepat kematiannya. Satu-satunya yang boleh dilakukan adalah berdo' a kepada Allah SWT dengan do' a sebagai berikut:

اَللَّهثمَّ أَحْيِنِيْ مَا كَانَتِ اْلحَيَاةُ خَيْرًا لِيْ وَتَوَفَّنِىْ إِذَا كَانَتِ اْلوَفَاةُ خَيْرًا لِيْ

"Ya Allah hidupkanlah aku sepanjang hidup itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku sepanjang kematian itu lebih baik bagiku"

... ... ...

Wallahua'lam. So, sila beli insuran utk perubatan (hehe, saya bukan agen insuran ye!), inshaallah lebih memudahkan dan kurangla sikit beban nak membayarnya, siapa tahu, Dia lebih tahu. Oh, dan jagalah kesihatan & pemakanan sehari-hari. inshaallah sehat slalu, n bley buat lagi byk amal baik ye x? Hoho.

*Ini nota studi la, nak exam nex week ni ha..
*filed in: [medic]

0 komen:

Post a Comment